Kamis, 27 Mei 2010

Museum Seni Rupa dan Keramik

1.Sejarah Museum Seni Rupa dan Keramik

Gedung yang dibangun pada 12 Januari 1870 itu awalnya digunakan oleh Pemerintah Hindia-Belanda untuk Kantor Dewan Kehakiman pada Benteng Batavia (Ordinaris Raad van Justitie Binnen Het Kasteel Batavia). Saat pendudukan Jepang dan perjuangan kemerdekaan sekitar tahun 1944, tempat itu dimanfaatkan oleh tentara KNIL dan selanjutnya untuk asrama militer TNI.
Pada 10 Januari 1972, gedung dengan delapan tiang besar di bagian depan itu dijadikan bangunan bersejarah serta cagar budaya yang dilindungi. Tahun 1973-1976, gedung tersebut digunakan untuk Kantor Walikota Jakarta Barat dan baru setelah itu diresmikan oleh Presiden Soeharto sebagai Balai Seni Rupa Jakarta.
Pada 1990 bangunan itu akhirnya digunakan sebagai Museum Seni Rupa dan Keramik yang dirawat oleh Dinas Kebudayaan dan Permuseuman DKI Jakarta.
Museum Seni Rupa dan Keramik terletak di Jalan Pos Kota No 2, Kotamadya Jakarta Barat, Provinsi DKI Jakarta, Indonesia. Museum yang tepatnya berada di seberang Museum Sejarah Jakarta itu memajang keramik lokal dari berbagai daerah di Tanah Air, dari era Kerajaan Majapahit abad ke-14, dan dari berbagai negara di dunia.

2. Koleksi Museum
Museum ini menyajikan koleksi dari hasil karya seniman-seniman Indonesia sejak kurun waktu 1800-an hingga saat sekarang.
Terdapat pintu besar yang menuju sebuah hall besar, dengan patung Sindudarsono Sudjojono, bapak seni lukis modern Indonesia, di sebelah kiri (sebelah utara) dan patung Raden Saleh Syarif Bustaman, perintis seni rupa Indonesia modern, di sebelah kanan (selatan).
Koleksi Seni Lukis Indonesia dibagi menjadi beberapa ruangan berdasarkan periodisasi yaitu:
Ruang Masa Raden Saleh (karya-karya periode 1880 - 1890)
Ruang Masa Hindia Jelita (karya-karya periode 1920-an)
Ruang Persagi (karya-karya periode 1930-an)
Ruang Masa Pendudukan Jepang (karya-karya periode 1942 - 1945)
Ruang Pendirian Sanggar (karya-karya periode 1945 - 1950)
Ruang Sekitar Kelahiran Akademis Realisme (karya-karya periode 1950-an)
Ruang Seni Rupa Baru Indonesia (karya-karya periode 1960 - sekarang)
Untuk Koleksi seni rupa menampilkan patung-patung sepeti Totem Asmat dan lain-lain. Sedangkan koleksi keramik menampilkan keramik dari beberapa daerah Indonesia dan seni kreatif kontemporer. Selain itu ada juga koleksi keramik dari mancanegara seperti keramik dari Tiongkok, Thailand, Vietnam, Jepang dan Eropa dari abad 16 sampai dengan awal abad 20.
Di ruangan pertama di sayap utara, dipamerkan berbagai benda keramik yang diambil dari sejumlah kapal dari berbagai bangsa yang tenggelam di perairan Indonesia. Dari benda-benda yang dibawa oleh kapal-kapal ini bisa diketahui apa saja komoditas saat itu, jalur-jalur mana saja yang dilewati, dan periode kapal itu melintas di nusantara. Selain itu juga bisa diketahui adanya jaringan perdagangan yang terjadi di Asia pada abad 9-10.
Kebanyakan benda-benda yang dipamerkan di ruangan ini berupa guci-guci yang sudah lapuk dan ditempeli kerang di sana-sini. Selain itu ada juga semacam perhiasan yang berbentuk semacam kelereng yang sudah lapuk dan tidak berbentuk.
Di ruangan ketiga sayap utara, ada sebuah tangga besi dengan ukiran yang sangat indah khas Eropa, berdiri menjulang di tengah ruangan. Yang menarik dari ruangan ketiga ini adalah adanya penjelasan tentang situs Intan shipwreck, salah satu situs kapal tenggelam yang menyimpan ratusan artefak. Yang menarik dari penemuan ini adalah penjelasan tentang sistem pengemasan (packaging) yang dilakukan pada masa itu.
Guci-guci dan keramik lainnya disusun dan disimpan sedemikian rupa ke dalam suatu guci besar. Sistem ini disebut dengan sistem “wadah disimpan dalam wadah”.
Di lantai atas terdapat ruangan yang menyimpan berbagai koleksi keramik dari Cina, Jepang, Arab, dan Eropa. Koleksi ini berupa piring-piring dan alat makan dengan hiasan pola tertentu yang dari situ bisa diketahui periode pembuatannya.
Keramik-keramik dari Dinasti Yuan (abad 14 M) dominan berwarna hijau, keramik dari Dinasti Ming (abad 15) yang bermotif dan dominan menggunakan warna biru, Dinasti Tang (abad 7-10 M) yang kebanyakan polos tanpa motif dengan dominan warna kuning, Dinasti Qing (abad 18 M), Dinastio Sung (abad 13 M), keramik dari Jepang, keramik dari Eropa bergambar hiraldik, hingga keramik Arab abad 19/20 bertuliskan huruf Arab dalam bahasa Melayu.
Di bagian belakang ini merupakan ruang pamer lukisan-lukisan dari berbagai periode.Ruang-ruang pamer dibagi-bagi berdasarkan periodenya. Jadi lukisan yang dipamerkan itu merupakan hasil karya pelukis yang hidup di masa-masa itu. Ruang pertama adalah ruang di masa Raden Saleh hidup (periode 1880 – 1890). Salah satu yang terkenal adalah lukisan yang berjudul “Bupati Cianjur” karya Raden Saleh.
Berikutnya, ruangan-ruangan periode Hindia Jelita (periode 1920-an), Ruang Persagi (periode 1930-an), Ruang Masa Pendudukan Jepang (periode 1942 – 1945), Ruang Pendirian Sanggar (periode 1945 – 1950), Ruang Sekitar Kelahiran Akademis Realisme (periode 1950-an), yang berada di blok sebelah utara dan terakhir Ruang Seni Rupa Baru Indonesia (karya-karya periode 1960 – sekarang) yang berada di satu blok selatan.
Beberapa lukisan terkenal dipamerkan di ruangan ini, antara lain lukisan berjudul “Ibu Menyusui” karya Dullah, “Potret Diri” karya Affandi, “Laskar Tritura” karya S. Sudjojono, dan “Dancing in the Cloud” karya Antonio Blanco.
Di halaman belakang terdapat patung-patung kayu berukiran tottem besar. Pohon sawo dan melinjo nampak menghiasi halaman belakang. Di sayap selatan, tepat di ujung ruang pamer lukisan, terdapat ruang keramik yang memamerkan keramik-keramik dari Asia semacam Thailand dan Vietnam.
Di lantai atas, keramik-keramik yang dipamerkan berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Mulai dari keramik kasongan, keramik Bandung, Kalimantan, dan sebagainya. Kebanyakan keramik-keramik ini terbuat dari tanah liat.
Selain keramik berupa peralatan rumah tangga, juga terdapat karya seni dari seniman-seniman Indonesia. Salah satunya adalah patung bertajuk “Urbanisasi” karya Sri Hartono yang terbuat dari tanah putih tanpa glasir. patung ini menggambarkan segerombolan orang yang menumpang bus untuk pergi ke kota (urbanisasi).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar